‘Selamat Pagi Indonesia’ Perjuangan Petani Kubu Raya – Kalimantan Barat

Masyarakat Desa Seruat Dua, Mengkalang Guntung, Mengkalang Jambu, Olak-Olak Kubu dan Dabong berjumlah 432 orang yang tergabung dalam organisasi Serikat Tani Kubu Raya (STKR) melakukan AKSI Demonstrasi Damai pada (23/07/2016) pukul 08.00 dan 11.00 wib di lahan perkebunan PT.Sintang Raya. Sebelumnya STKR sebagai pimpinan aksi telah mengrimkan surat pemberitahuan kepada Polsek Kecamatan Kubu atas rencana aksi demonstrasi. Pada saat massa aksi sedang melakukan perjalanan menuju kantor PT. Sintang Raya, aparat kepolisian dari Polsek Kubu, Polres Mempawah dan Brimob Polda Kalbar serta ratusan preman menghadang massa aksi. Tanpa memberikan alasan yang jelas, kepolisian melarang masyarakat melakukan aksi demonstrasi di Kantor manajemen PT. Sintang Raya yang berlokasi di perkebunan PT. Sintang Raya.

Menanggapi larangan tersebut, pimpinan aksi berusaha untuk meminta polisi untuk tetap memberikan izin. Namun kepolisian dari Polsek Kubu tetap tidak memberikan izin. Akhirnya, massa aksi berorasi tentang persoalan yang dihadapi akibat masuknya PT. Sintang Raya dan aspirasi atau tuntutan yang ingin disampaikan. Namun secara tiba-tiba, tanpa ada sebab yang jelas polisi melakukan tindakan pemukulan terhadap massa aksi yang terdiri dari laki-laki dan perempuan secara brutal. Situasi menjadi memanas, pimpinan aksi berusaha menenangkan dan meminta aparat kepolisian untuk tidak melakukan tindakan pemukulan secara brutal. Namun permintaan tersebut tidak diindahkan.
Selain tindakan pemukulan, aparat kepolisian juga menangkap dua (2) orang yaitu Akun dan Ikhsan dengan tuduhan sebagai provokator dan melakukan pemukulan terhadap polisi. Keduanya dibawa ke Kantor PT. Sintang Raya dan selanjutnya ditahan di Polres Mempawah.

Pada tanggal 24/7/2016 pihak kepolisian juga melakukan penggeledahan paksa Pick-Up Zainal dengan dalih memeriksa barang bawaan.
Pada tanggal 25/7/2016 lagi-lagi pihak Kepolisian kembali menangkap 1 orang Petani Desa Olak-Olak Kubu yang bernama Katin. Katin didatangi oleh 2 orang Polisi dari Polsek Kubu, kemudian disusul kembali 5 orang dari Polres Mempawah yang memaksa Katin untuk menandatangani Surat Penahanan. Namun Katin tidak bersedia menandatangani surat tersebut dan sudah coba dibantu oleh pihak aparat desa untuk diselesaikan secara baik. Tapi tetap saja pihak Kepolisian membawa secara paksa Bapak Katin ke Mapolres Mempawah. Padahal Bapak Katin pada saat itu dalam kondisi sakit (Demam Tinggi). Selain penangkapan paksa, pihak Kepolisian juga merusak rumah Katin dengan memecah Kaca rumahnya.
Pada hari yang sama, pukul 21.00 WIB kurang lebih 50 orang personel polisi kembali memasuki desa Olak-olak Kubu untuk melakukan pencarian masyarakat yang dituduh menjadi provokator aksi dan melakukan pemukulan terhadap polisi. Padahal yang melakukan pemukulan adalah aparat kepolisian terhadap massa aksi.

pada tanggal 26/7/2016 aparat Kepolisian terus melakukan patroli intensif di desa dan membangun Camp di lokasi kebun sawit dengan jumlah ratusan personil.
Teror PT.Sintang Raya terhadap Petani terus berlanjut dengan cara melakukan patroli keluar masuk desa bersama preman. Tepatnya pada 28 July 2016 pukul 18.30 pihak Kepolisian kembali melakukan penangkapan paksa tanpa menjalankan prosedur pemanggilan dan surat penangkapan terhadap Bapak Ponidi. Puluhan Polisi melakukan pengepungan rumah bapak Ponidi dan mengangkut paksa bapak Ponidi menggunakan Speed Boat. Belum jelas tuduhan yang diarahkan kepada bapak Ponidi sehingga dia ditangkap, apakah dituduh sebagai pencuri Tandan Buah Segar (TBS), Pemukulan Polisi ataupun dituduh provokator.
29 July 2016 Pihak Kepolisian kembali melakukan Penangkapan terhadap Petani Desa Mengkalang Guntung, Kec. Kubu Bpk Efendi Liman (47) pada pukul 16.30 wib. penangkapan dilakukan oleh 12 personel polisi, 4 diantaranya menggunakan pakaian Preman.
Sampai pada 29 July 2016 pukul 23.00 wib, rasa takut dan cemas terus menghantui pikiran masyarakat 7 Desa yang berkonflik denga PT.Sintang Raya. Saat ini Masyarakat terpaksa hidup dibawah rasa takut yang menghantui, karena ancaman penangkapan dan intimidasi serta teror dari pihak Kepolisian dan Preman yang dimobilisasi oleh PT.Sintang Raya.