Perahu dan Alat Tangkap Rusak Akibat Tsunami, Nelayan Desa Ujung Jaya Belum Bisa Melaut.

Nelayan Ujung Jaya kesulitan melaut pasca bencana Tsunami selat sunda. [foto : IB]

Pandeglang, MRB – Puluhan nelayan yang berasal dari kampung Cikawung Pangkalan desa Ujung Jaya – Pandeglang belum bisa kembali mencari ikan pasca tsunami selat sunda 22 Desember 2018 lalu. Pasalnya perahu serta berbagai alat tangkap mereka banyak yang rusak bahkan hilang di terjang tsunami. Akibatnya hingga hari ini (9/1) mereka belum mampu menghasilkan ekonomi bagi keluarganya.

Rata-rata nelayan di desa Ujung jaya menghabiskan waktu 4 hari melaut dengan alat tangkap jaring rampus (lobang 4 inci dengan benang ukuran 30-35) atau jaring bloon. Selama melaut biasanya per orang menghabiskan biaya antara Rp. 200.000 – Rp. 400.000 dengan hasil antara Rp. 1200.000 – Rp. 1500.000.

Dari data yang dihimpun dari pemerintah desa Ujung Jaya setidaknya ada 39 nelayan yang mengalami kerugian langsung baik yang rudak perahunya ataupun kehilangan alat tangkap. Sementara dari data yang dihimpun oleh posko kemanusiaan Indonesia Bangkit di kampung Cikawung Pangkalan desa Ujung jaya ada 16 orang nelayan yang mengalami kerugian akibat bencana dengan jenis kapal rusak maupun kehilangan alat tangkap ikan.

Untuk perbaikan perahu rata-rata nelayan membutuhkan sekitar Rp. 500.000,  sementara untuk jaring per 1 pis membutuhkan Rp. 750.000, sedangkan rata-rata nelayan kehilangan 2 jaring perorangnya. Kalau di akumulasi rata-rata nelayan tradisonal yang ada di desa Ujung Jaya mengalami kerugian langsung sebesar Rp. 2000.000 akibat bencana tsunami selat sunda ini.

Pak Ahmad ketua RT 02 RW 03 desa Ujung Jaya yang juga berprofesi sebagai nelayan mengatakan bahwa hingga saat ini belum ada pembicaraan dari pihak pemerintah terkait kerugian nelayan akibat tsunami ini, sementara para nelayan sudah kehabisan uang untuk kebutuhan sehari-hari, terutama untuk kebutuhan sekolah anak-anaknya yang sudah mulai kembali masuk. ” Di Ujung Jaya ada sekitar 10 rumah yang hancur, dan sementara ini pemerintah di desa Ujung Jaya maupun pemerintah daerah baru membicarakan rumah rusak, sementara kerugian sarana usaha seperti perahu dan alat tangkap para nelayan belum jadi pembicaraan sama sekali” tutur Ahmad.

Sementara Ahmad Romdhoni koordinator Indonesia Bangkit Desa Ujung Jaya, mengatakan bahwa jika kondisi nelayan yang kehilangan alat produksinya tidak segera di tangani, tidak menutup kemungkinan akan menjadi bencana baru yaitu bencana ekonomi. “Persoalan pemulihan ekonomi bagi para nelayan harus menjadi perhatian kita bersama, karena jika tidak, ini akan jadi persoalan atau bencana baru. Disisi lain sangat sedikit relawan dan donatur yang memiliki perhatian atas kerugian usaha para nelayan ini”. Papar pemuda yang akrab disapa Dhoni.

“Selama ini bantuan dari para relawan berfokus pada perkampungan yang mengalami kerusakan, sementara mayoritas nelayan tinggal di kampung yang tidak mengalami dampak langsung bencana tsunami”. Tambahnya.

Atas keadaan tersebut Dhoni mengajak semua pihak untuk menjadikan pemulihan ekonomi para nelayan sebagai perhatian khusus, “perbaikan perahu dan pengadaan alat tangkap harus diperhatikan oleh kita semua, agar pemulihan pasca bencana tsunami ini bisa dipercepat di desa Ujung Jaya dan tidak menyisakan persoalan baru”. Pungkas Dhoni.