Overcharging Dilaporkan, PT. Sari Madu Jaya Kembalikan Uang BMI Hong Kong

Ilustrasi foto : Sejumlah Organisasi BMI Hong Kong Serukan Lawan Overcharging [foto:istimewa]

Mrb,Hong Kong -Sebanyak 22 Buruh Migran Indonesia (BMI) di Hong Kong mengadukan pungutan berlebihan- Overcharging kepada Konsulat Jenderal Republik Indonesia. 11 orang dinyatakan sudah menerima pengembalian, sementara 11 yang lain masih dalam proses.

Jumlah overcharging kisaran 1,1 juta sampai 3,3 juta rupiah dikembalikan oleh PT. Sari Madu Jaya yang beralamat di Cilacap dengan mendatangi rumah masing masing BMI pelapor.

Seperti di ungkap oleh Persatuan BMI Tolak Overcharging -PILAR Hong Kong dalam rilis bersama dengan Asosiasi Buruh Migran Indonesia -ATKI Hong Kong yang disebar baru baru ini. “Uang tersebut tidak mungkin akan diberikan jika BMI tidak berani melapor dan ada pendampingan dari organisasi”.

Jelasnya lagi, berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 98 tahun 2012, BMI pendatang baru di Hong Kong  wajib membayar biaya penempatan maksimal Rp14,780,400  berpatokan pada kurs Rp. 1,100. Sementara jika dihitung dengan kurs terbaru rata rata selamat 2018,  per HK$ 1 adalah Rp. 1,750 BMI seharusnya cukup membayar sebesar HK$ 8,445.95.

Namun dalam prakteknya, PT. Sari Madu Jaya memungut biaya sebesar hingga HK$14,637  (Rp 25,614,750) dari setiap BMI yang diberangkatnya. Biaya tersebut dibayar melalui cicilan 6 bulan gaji sebanyak dengan variasi HK$2,079 sampai $2,163 per bulan. Ke 22 BMI tersebut diharuskan juga mendapat pungutan biaya tambahan sebesar HK$721 per bulan selama kurun 3 bulan.

Belum adanya mekanisme pengaduan resmi menyulitkan para BMI di berbagai negara penempatan melaporkan overcharging dan  meminta ganti rugi dari PPTKIS. Akibatnya, PPTKIS memungut biaya berfariasi melebihi peraturan pemerintah Indonesia dan pemerintah negara penempatan tanpa ada sanksi dan hukuman.

Karsiwen, ketua ATKI Indonesia menjelaskan prosedur pengaduan di tanah air yang berbelit dan tidak tegas.  Kasus Overcharging tahun 2010 sampai 2011 pernah dilaporkan oleh puluhan BMI Taiwan kepada ATKI Indonesia. BMI yang diberangkatkan oleh PT. Forward Global di haruskan menabung di bank China Trust setiap bulan melalui potongan Agen. Namun ketika BMI kembali ke tanah air, tabungan hanya bisa diambil 10% dengan berbagi macam dalih.

Pendampingan dari ATKI Indonesia mulai dari melaporkan ke BNP2TKI, ke pusat krisis center, sampai ke Dirjen Binapenta tidak memuaskan. “Karena dari panggilan pertama, panggilan kedua dan seterusnya jika PT mangkir hadir, mereka angkat tangan. Sampai kami demo kantor pemerintah dan mendatangi sendiri PT tersebut untuk meminta keadilan”. Jelasnya.

Sampai berita ini ditulis, belum Ada keterangan resmi disampaikan oleh pihak KJRI HK dan PT. Sari Madu Jaya. [Iv]