Buruh Pabrik Plastik Menolak PHK Sepihak Oleh PT.ERA

Aksi buruh PT.ERA di depan pabrik mendapat dukungan dari berbagai organisasi, [foto:rn]

Jakarta, Buruh pabrik plastik yang menjadi korban PHK di Kapuk Muara – Jakarta Utara melakukan aksi unjuk rasa di depan pabrik pada 7 November 2018 kemarin.

Dengan membawa poster dan spanduk, massa buruh PT. Elastik Reka Aktif (PT.ERA) dan berbagai organisasi yang turut bersolidaritas menggelar orasi sebagai protes atas pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak terhadap puluhan buruh. Aksi di depan gerbang pabrik berlangsung ditengah pengamanan ketat oleh personil kepolisian.

Serikat Buruh Aneka Industri – Federasi Serikat Buruh Traspotasi (SBAI-FSBTPI) PT.ERA menenggarai bahwa PHK yang dilakukan oleh perusahaan adalah upaya untuk melemahkan perjuangan buruh dan sebagai bentuk pemberangusan serikat atau Union Busting.

PT. Elastik Reka Aktif merupakan produsen kantong plastik merk Loco yang beralamat di Jl. Kapuk Raya no.88E RT.7 RW.3 Kapuk Muara Penjaringan Jakarta Utara

Dalam tiga bulan terakhir hingga November tercatat terjadi PHK terhadap 38 anggota dan pengurus Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FBTPI) di PT ERA. Buruh mengalami PHK dengan alasan pelanggaran Peraturan Perusahaan (PP) dan alasan lainya yang dikemukakan perusahaan.

Tindakan PHK sepihak mulai marak sejak buruh membangun serikat dan melakukan perjuangan untuk peningkatan upah sejak bulan Maret 2018 lalu. Selain pemecatan perusahaan juga melakukan intimidasi dan mutasi kerja bagi buruh yang menjadi anggota serikat.

Salah satu perwakilan organisasi yang turut bersolidaritas dari Front Perjuangan Rakyat (FPR) Jakarta, Sujak, menyampaikan bahwa tindakan PT. ERA bertentangan dengan Pasal 28 Undang-Undang Nomor 21 tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh.

“Siapapun dilarang menghalang-halangi buruh menjadi anggota atau menjalankan kegiatan serikat buruh. Union Busting oleh perusahaan dapat dikenakan pidana.” Tegas Sujak.

FPR Jakarta dalam pernyataan solidaritasnya, mendesak PT.ERA Mempekerjakan kembali para pimpinan dan anggota serikat buruh yang di PHK sepihak.

Pihak perusahaan hingga kini tidak menunjukkan itikad baiknya untuk memenuhi tuntutan buruh. Bahkan perusahaan tidak menghadiri panggilan dari Suku Dinas Tenaga Kerja (Sudinaker) Jakarta Utara pada 16 Oktober lalu.  Sebelumnya buruh PT.ERA menggelar aksi di depan pabrik sepanjang bulan Oktober, selain itu buruh juga melakukan pengaduan kepada Suku Dinas Tenaga Kerja Jakarta Utara.

Dalam rilisnya FPR Jakarta juga meminta Suku Dinas Tenaga kerja Jakarta Utara bertindak tegas kepada pengusaha PT.ERA yang melakukan pelanggaran peraturan ketenagakerjaan nomor  13 tahun 2003 dan Undang-Undang Nomor 21 tahun 2000.

Tindakan pengamanan yang berlebihan terhadap aksi buruh juga menjadi sorotan FPR Jakarta. “Kami menuntut kepada pihak Kepolisian Resort Jakarta Utara untuk tidak melakukan tindakan pengamanan yang berlebihan dalam mengamankan peserta aksi serta memberikan jaminan keamanan kepada buruh PT. ERA yang melakukan aksi secara bergelombang sejak Juli 2018”.

Sujak juga menyampaikan kekecewaannya, di tengah meningkatnya pendapatan Industri plastik Indonesia pada tahun ini justru tuntutan buruh untuk peningkatan upah di jawab dengan PHK dan pemberangusan serikat.

Buruh PT. ERA meminta agar di pekerjakan kembali dengan status karyawan tetap dan penuhi hak normatif sebagaimana diatur dalam uu no 13 tahun 2003. Ketua Umum FBTPI Rosyid mengatakan bila tidak ada titik temu atau jawaban maka aksi ini akan diperpanjang terus.