Agenda Politik Militer Amerika Serikat Ancaman Keamanan Kawasan : Konferensi Zona Perdamaian Asia Timur, Di Unmas Denpasar – Bali

Konferensi perdamaian di kawasan Asia Timur yang berlangsung di Universitas Mahasaraswati Denpasar Bali, 3 Agustus 2018.

MRB, Bali – Salah satu isu kawasan yang terus menjadi perhatian adalah masalah keamanan. Seperti di kawasan Asia Timur, kehadiran militer AS menjadi perhatian tersendiri, apalagi dengan kerjasama militer hingga adanya Pangkalan militer Amerika di beberapa negara Asia seperti Jepang. Keberadaan militer AS merupakan salah satu dari implementasi dari politik militer AS di Asia terutama untuk memelihara hegemoni mereka di kawasan tersebut.

Keadaan tersebut dipandang akan mengganggu stabilitas keamanan Asia Timur serta berpotensi memprovokasi kawasan untuk semakin panas. Hal tersebut diungkapkan dalam konferensi perdamaian di kawasan Asia Timur yang berlangsung di Universitas Mahasaraswati Denpasar Bali, 3 Agustus 2018.

Perdamaian di kawasan Asia Timur dipandang dalam keadaan yang terancam dengan hadirnya AS dan dukungan pemerintah lokal membuat keadaan semakin panas. Misalnya dengan pemerintah Jepang yang tetap membiarkan Pangkalan militer AS di negaranya atau Philippines yang merencanakan membuka kembali Pangkalan militer AS di negaranya. Provokasi AS juga membuat Tiongkok semakin agresif untuk bermain dalam pameran kekuatan militer di kawasan yang membuat negara negara seperti Vietnam dan Philippines terganggu.

Pembangunan infrastruktur dan kekuatan militer sekarang menjadi fokus negara-negara Asia Timur untuk menghadapi kondisi tersebut.

Di berbagai negeri gerakan demokratis mengalami Tindasan karena kampanye anti terorisme yang diluncurkan AS dengan dukungan rejim lokal. Rakyat dipaksa untuk mengikuti kampanye militer AS atas nama keamanan kawasan. Hal tersebut banyak disinggung oleh pembicara yang mewakili berbagai organisasi pekerja hukum dari negara Asia Timur.

Konferensi tersebut diselenggarakan oleh Conferderation Lawyers of Asia and Pacific (COLAP) bekerja sama dengan Serikat Pekerja Hukum Progresif (SPHP) Indonesia. Konferensi tersebut menampilkan pembicara seperti Jeong Woo-chul dari IPC Korea Selatan, Jinen Kita dari JALISA Jepang, dari DPRK, perwakilan Bangladesh, Nepal, Vietnam dan Indonesia. [M-01]