Tenda Kendeng Dibakar dan Negara yang Diam

Tenda Perjuangan dan Mushola Kendeng dibakar oleh kelompok yang mengaku karyawan PT. Semen Indonesia [foto:tempo]

Kisah perjuangan rakyat di sekitaran gunung Kendeng, Jawa Tengah untuk menolak beroperasinya pabrik semen terus berlangsung hingga kini. Militansi dan ketabahan warga Kendeng terus terjaga meskipun berbagai halangan yang menimpa mereka. Mulai dari intimidasi, kekerasan hingga penelantaran kasus untuk berlarut-larut, tetap tidak menyurutkan semangat Rakyat di sekitar gunung Kendeng.

Perjuangan tersebut telah menuai simpati dan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari jaringan masyarakat, artis hingga ulama besar seperti Gus Mus dan Cak Nun yang berkali-kali mengunjungi Kendeng dan menyatakan dukungan mereka terhadap perjuangan warga. Warga Kendeng bahkan membangun Tenda Juang Rembang yang dilengkapi dengan bangunan Mushola sebagai pusat aktivitas mereka. Di Mushola dan Tenda Juang inilah tokoh-tokoh seperti Gus Mus dan Cak Nun pernah mampir dan memberikan semangat bagi rakyat Kendeng.

Bertahun-tahun rakyat Kendeng tetap gigih, berkali-kali melakukan aksi menolak keberadaan pabrik semen, rakyat kendeng telah berkali-kali melakukan aksi jalan kaki dari Kabupaten Rembang ke pusat pemerintahan Provinsi Jawa Tengah di Semarang hingga ibu-ibu Kendeng yang “menyegel” kakinya dengan semen di depan Istana Negara.

Dukungan dari tokoh masyarakat hingga artis terhadap perjuangan rakyat kendeng.
Dukungan dari tokoh masyarakat hingga artis terhadap perjuangan rakyat kendeng.

Perjuangan rakyat menolak pabrik keberadaan pabrik semen di Kendeng sebenarnya memperoleh momentum ketika keluar putusan Peninjauan Kembali (PK) nomor 99 PK/TUN/2016 . PK tersebut membatalkan izin lingkungan dan pembangunan pabrik semen oleh PT Semen Gresik. Selain itu terbit pula perintah Gubernur Jawa Tengah nomor 660.1/4 tahun 2017 tentang Pencabutan Izin Lingkungan kegiatan penambangan bahan baku semen, pembangunan serta pengoperasian pabrik semen PT Semen Indonesia (Persero) di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Putusan tersebut membatalkan izin usaha yang diterbitkan berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Tengah No 660.1/17 tahun 2012, untuk PT Semen Indonesia beroperasi di wilayah tersebut.

Namun keputusan tersebut tidak dijalankan terutama oleh PT. Semen Indonesia, karena tetap beroperasi di wilayah tersebut. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah maupun aparat yang terkait seperti pihak kepolisian tidak memberikan respon apapun atas situasi tersebut, meskipun aktivitas PT. SI telah diadukan dan mendapatkan somasi dari warga.

Tenda Perjuangan yang di Bakar, dan Negara Diam

Situasi yang berkembang menunjukan bagaimana sikap pemerintah sesungguhnya pada kasus Kendeng melawan Semen.

Pada hari Jum’at 10 Februari 2017, warga Kendeng kembali melakukan protes atas PT. Semen Indonesia yang tetap beroperasi padahal tidak memiliki ijin, pada kasus ini PT SI seharusnya berada dalam posisi “ilegal”. Akan tetapi kenyataan di lapangan, justru keberadaan aparat kepolisian, lengkap dengan senjata laras panjangnya hadir untuk melindungi pabrik semen milik BUMN ini, meskipun yang dilindungi ini tidak sah untuk berada di tempat tersebut.

Musholla warga Kendeng turut menjadi sasaran pembakaran.
Musholla warga Kendeng turut menjadi sasaran pembakaran.

Aksi dilakukan dengan menyegel pabrik PT. Semen Indonesia.  Tetapi aparat kepolisian justru memberi peringatan bahwa aksi yang banyak diikuti oleh ibu-ibu Kendeng. Alasan yang digunakan bahwa aksi tersebut tidak melalui pemberitahuan kepada aparat.

Sore-nya sekitar pukul 19.00, datang puluhan pekerja pabrik PT. SI ke depan Tenda Perjuangan yang saat di dalamnya ada 8 warga yang sedang berjaga setelah aksi menyegel pabrik. Puluhan orang tersebut berteriak-teriak menyuruh warga yang ada di dalam tenda untuk keluar, atau tenda tersebut akan dirobohkan dan dibakar karena dianggap menghalangi pekerjaan mereka di PT. SI.

Warga pun keluar, lalu puluhan orang tersebut membongkar portal segel di depan PT. SI, Tenda Perjuangan dan dapur umumnya juga ikut dirobohkan. Tidak sampai disitu, pekerja PT SI kemudian juga mengangkat bangunan yang dijadikan Mushola dan kemudian di robohkan. Tentu sebagai tempat ibadah, kita bisa membayangkan apa yang ada di dalamnya adalah peralatan ibadah. Mushola dan tenda kemudian dibakar beserta segala isinya oleh pekerja semen. Dalam hitungan jam, bangunan semi permanen tersebut musnah dilalap api.

Seperti biasanya, aparat negara seperti kepolisian diam “membiarkan” hal tersebut terjadi di depan mata mereka.

Sekali lagi perjuangan “sikecil” itu tidak akan mendapatkan perhatian berarti dari pemerintah negeri ini yang sedari awal memang telah mengambil jarak dan sikap. Seperti hukum yang telah diputuskan tetapi kemudian juga diputuskan untuk dibiarkan saja, menunggu “kebosanan” warga Kendeng menolak pabrik semen di tanah penghidupan mereka. Catatannya adalah, pembiaran ini termasuk dengan membiarkan tindakan premanisme seperti pembakaran dan pembongkaran tenda dan mushola  warga tetap berlangsung.audiens

Bagi rakyat di sekitar Kendeng, peristiwa ini bukanlah hal kecil karena menyangkut masa depan tanah penghidupan mereka yang kelak akan dihuni oleh anak-anak keturunannya. Sekali lagi warga Kendeng akan dihadapkan pada ujian tentang ketabahan untuk tetap berjuang, sekalipun hukum dan perangkatnya di negeri ini terus memunggungi mereka.

Apa yang terjadi atas rakyat di sekitar Kendeng, mengingatkan kita “sekali lagi” dan “setiap kali” hukum (tidak) berlaku pada peristiwa yang menyangkut antara rakyat kecil melawan korporasi ataupun kepentingan besar lainnya, bahwa penentu hukum sesungguhnya adalah kekuatan politik.

Perjuangan rakyat Kendeng adalah kekuatan rakyat yang “memaksa” kekuatan uang, keserakahan perusahaan dan politik anti rakyat dari pemerintah untuk berpanjang-panjang melemahkan semangat dan solidaritas rakyat. [Tim Redaksi]