Kasus Yufrida Selan dan Dolvina Abuk, Simbol Miskinnya Perlindungan Terhadap BMI (Bagian I)

Dari kanan ke kiri, Inosentius Naitio, Petrus Bauk dan Melky Salak serta perwakilan PGI saat diskusi publik di Grha Oikoumene PGI, Salemba 28 September 2016.

(Wawancara dengan keluarga Yufrida Selan dan Dolvina Abuk)

MRB-Media.com – Krisis perdagangan manusia di Nusa Tenggara Timur [NTT] kian memprihatinkan dan terus meningkat. Memanfaatkan tingkat kehidupan masyarakat yang terus merosot dan kemiskinan, para mafia sindikat perdagangan manusia bergerak bebas merekrut calon-calon korbannya dengan iming-iming bekerja ke luar negeri. Nyatanya, 27 warga NTT yang bekerja di Malaysia sepanjang Januari hingga Agustus 2016 pulang dalam keadaan tak bernyawa.

Jumlah warga NTT yang bekerja sebagai buruh migran sejak Januari 2015 hingga Mei 2016 mencapai 3.144 orang, mayoritas perempuan. Dari jumlah itu, terutama pada periode Januari 2015 hingga Juli 2016 sebanyak 1.667 orang menjadi korban perdagangan manusia. Jumlah warga NTT yang menjadi buruh migran itu menempatkan provinsi ini terbesar ke-9 yang mengirimkan warganya ke luar negeri. Bersama dengan Jawa Barat, NTB, Jawa Timur dan Jawa Tengah, NTT menjadi 5 provinsi terbesar sumber buruh migran tidak berdokumen. Pemerintah menyebutnya ilegal.

Setiap tahun jumlah pengiriman buruh migran tidak berdokumen ke luar negeri semakin meningkat. Di NTT, mereka direkrut langsungĀ  agen-agen di pelosok desa yang menjadi kantong-kantong kemiskinan. Cara tersebut menjadi modus utama perdagangan manusia yang marak di NTT.

Mayoritas kematian warga NTT yang menjadi buruh migran itu tidak wajar. Tubuhnya dipenuhi jahitan dan sebagian organ tubuhnya hilang. Celakanya, kematian warga NTT yang bekerja sebagai buruh migran ini tidak pernah terungkap tuntas. Penuh misteri. Para pejabat negara pun tidak pernah serius menangani kasusnya, terutama sejak terbongkarnya mafia sindikat perdagangan manusia secara besar-besaran pada 2013.

Terbaru kasus yang menimpa Yufrinda Selan dan Dovina Abuk. Kedua buruh migran asal NTT ini dipulangkan dalam keadaan tewas dan mengenaskan. Keduanya diberangkatkan dengan identitas yang dipalsukan. Ini menjadi salah satu modus perdagangan manusia di NTT. Akan tetapi yang menjadi aneh adalah warga NTT secara umum kesulitan untuk membuat identitas seperti KTP. Bisa berbulan-bulan. Tapi, untuk memalsukan KTP, misalnya, para mafia sindikat perdagangan manusia ini dengan mudah menerbitkannya.

Fakta ini kemudian memunculkan dugaan, para pejabat negara terutama di NTT terlibat secara sistematis dalam sindikat perdagangan manusia itu. Untuk mengetahui secara detail apa yang menimpa Yufrinda Selan dan Dovina Abuk, wartawan MRB-Media.com [Kristian Ginting dan Catur Widi Asmoro] berkesempatan mewawancarai Melky Salak [ayah Yufrinda Selan], Petrus Bauk [ayah Dovina Abuk] dan Koordinator Forum Mahasiswa Peduli Kemanusiaan [FMPK] NTT Inosentius Naitio ketika berkunjung ke Jakarta pada Rabu [28/9].

Bisa diceritakan bagaimana perkembangan kasus Yufrinda setelah jasadnya diautopsi ulang?

Melky Salak: Kalau untuk hasil autopsi sampai hari ini juga Kepolisian Daerah [Polda] NTT belum menyatakan atau mengumumkan apa sebab utama kematian Yufrinda. Itu belum.

Sementara ini keterangan yang disampaikan dokter apa?

Melky Salak: Pada waktu autopsi, ketika dokter membedah jasad Yufrinda, ternyata organ tubuhnya tidak beraturan atau tidak pada tempatnya. Organ tubuhnya dikumpulkan dalam perut secara terpisah. Karena itu, waktu autopsi itu, dokter Polda mengambil sepotong-sepotong [sampel] dari organ yang ada. Saya sempat bertanya, apakah organ tersebut merupakan milik Yufrinda atau bukan. Lalu, kematiannya karena apa. Benarkah karena gantung diri? Dokter sama sekali belum kasih tahu.

Jadi, masalah organ tubuh Yufrinda saja belum pasti?

Melky Salak: Sampai hari ini kita belum tahu. Memang semua organ ada, tapi terpisah-pisah. Mungkin pada persidangan nanti akan disampaikan. Itu kewenangan jaksa kan.

Atas kondisi itu, pihak kepolisian bilang apa?

Melky Salak: Ketika autopsi, ada dokter, kepala Polres Timor Tengah Utara dan jajarannya bertanya kepada saya. Mereka tanyakan apakah saya sudah melihat organ tubuh Yufrinda. Saya katakan, sudah. Cuma pertanyaan saya, apa betul itu organ Yufrinda?

Mereka jawab organ itu akan dibawa ke laboratorium untuk dicek. Kita belum tahu apa jawabannya. Mereka hanya katakan ini hasil autopsi dari Malaysia.

Secara hukum, bagaimana perkembangannya dan kapan akan disidangkan?

Melky Salak: Saya sebagai orang tua belum tahu informasinya.

Apa saja informasi yang disampaikan kepada keluarga?

Melky Salak: Sampai hari ini saya belum dapat kabar apa-apa lagi setelah autopsi itu dilakukan. Hanya saya dikabari pelaku [perekrut Yufrinda] sudah ada yang ditangkap. Soal persidangan saya belum tahu.

Apakah Anda kenal dengan pelaku?

Saya tidak kenal. Hanya [foto] ditunjuk lewat telepon seluler. Sekampung dengan perekrut tapi beda desa.

Inosentius Naitio menambahkan: Jadi beberapa bulan yang lalu, kita ke Polda menuntut tes deoxyribonucleic acid [DNA] atas organ tubuh Yufrinda. Polda menolaknya. Alasannya anggarannya besar. Ini Alasan yang sama yang disampaikan kepolisian ketika kita menuntut autopsi ulang. Karena kita berjuang dengan massa, maka tuntutan kita dikabulkan. Demikian juga soal DNA ini, kita akan berjuang dengan massa, kita yakin akan menang.

Perkembangan proses hukumnya, kita mendapatkan informasi dari Keluarga Besar Buruh Migran Indonesia [Kabar Bumi], sudah ada penangkapan terhadap 14 orang dan ditetapkan sebagai tersangka. Persoalannya adalah tuntutan keluarga atas tes DNA. Apakah benar itu organ tubuh Yufrinda. Terlebih organ tubuhnya tidak beraturan lagi. Harusnya dilakukan tes DNA.

Lalu, hasil autopsi semestinya menguatkan dugaan kematian Yufrinda yang tidak wajar. Informasinya kan Yufrinda mati karena gantung diri. Tapi, pada waktu visum awal ada tanda-tanda kekerasan di tangan sebelah kiri [sambil menunjukkan foto Yufrinda]. Kalau gantung diri, lidahnya keluar, tapi ini giginya tertutup. Ini membuat kami terus bertanya-tanya. Seharusnya dengan autopsi, Polda NTT harusnya semakin kuat mengungkap kasus ini. Polda sering mengatakan, kepolisian RI tidak memiliki kewenangan menyelidiki pembunuhan Yufrinda di Malaysia. Tapi, setidaknya, polisi keluarkan hasil autopsi itu. Karena keluarga konsisten menuntaskan kasus Yufrinda.

Jadi kepolisian seharunya mendukung keluarga untuk membongkar kasus itu. Kita akan usut sampai kapan pun. Yufrinda dan Dovina pintu masuk membongkar kasus perdagangan manusia di NTT.

Selanjutnya di bagian IIĀ Kasus Yufrida Selan dan Dolvina Abuk, Simbol Miskinnya Perlindungan Terhadap BMI (Bagian II)