Full Day School : PENJARA bagi Anak-Anak Indonesia

Ilustrasi FDS yang dianggap justru akan menjadi penjara bagi kebebasan dan potensi anak-anak Indonesia. Gambar, sumber: www.aclu.org

“Saya tidak pernah membiarkan Sekolah Mengganggu Pendidikan saya -Mark Twain”

Kutipan bijak dari Novelis sekaligus berprofesi pengajar ini menyuruh kita mengkaji sekolah lebih komprehensif dan substansi. Tentu sekolah yang dimaksud adalah pendidikan yang berada di bawah naungan institusi Negara. Menariknya gagasan Mendikbud Muhadjir Effendy yang baru dipilih bapak Presiden Jokowi, langsung menunjukkan taringnya di dunia pendidikan. Dengan dalil perbaikan Kualitas, pak Menteri menggagas beberapa rencana kebijakan seperti menghapuskan sekolah gratis (walau dari dulu gk gratis), melanjutkan kurikulum 2013 (walau hasil evaluasi tidak ada) sampai yang paling fenomenal yaitu, FULL DAY SCHOOL (FDS)

Bapak menteri yg Kece ini mungkin punya hati yg kuat atau otak yang brilian dlm meningkatkan kualitas pendidikan. Apalagi dirinya saangat percaya diri, bahwa setiap kebijakannya akan disetujui Pak Presiden dan Wapresnya. Contohnya, Program FDS ini. Bapak Menteri ini telah mengantongi persetujuan dari Wapres. Dengan bangganya, Pak menteri akan melakukan kajian, mengeluarkan Permen hingga memulai Pilot Project ke beberapa sekolah untuk melihat respond Pasar (itu istilah JK menyebut sekolah).

Rencana Kebijakan FDS ini disambut berbagai protes dari masyarakat. Tapi agar lebih objektif, ada baiknya kita mengulasnya ya Pak Mendikbud. Sebelum kita mengulas FDS ini, ada baiknya juga kita membahas pendidikan khususnya pendidikan dasar di Indonesia.

Kalau merujuk UU Sisdiknas No.20 Thn 2003 menjelaskan Pendidikan adalah Usaha sadar dan terencana yang tertuang ke dalam tujuan pendidikan nasional dan pendidikan dasar yaitu mewujudkan suasana belajar yang nyaman dan proses kegiatan pembelajaran dengan tujuan agar siswa aktif mengembangkan daya intelektualnya. Atau di dalam Pembukaan UUD 1945 tertera bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa adalah salah-satu tujuan Indonesia didirikan. Tentu inilah menjadi cita-cita bangsa Indonesia untuk memberikan pendidikan kepada seluruh warganya sebagai antitesa atas pendidikan di zaman kolonial yang diskriminatif. Itu sebabnya konstitusi mengatur pendidikan sebagai hak seluruh rakyat di Indonesia dan Negara wajib menyelenggarakannya. Atas dasar itu pula bahwasan pendidikan bukanlah barang komoditas yang bisa diperjualbelikan. Walau kenyataannya saat ini, pendidikan semakin jatuh ke jurang neoliberalisasi yang semata-mata berorientasi Profit (makanya jg pemasukan dari biaya pendidikan tinggi masuk kategori PNBP guys).

Sementara yang dimaksud pendidikan dasar di Indonesia terdiri dari 2 tahap; SD/MI (6 Tahun) dan SMP/MT (3 Tahun). Tujuan pendidikan dasar tentu disesuaikan dengan usia peserta didik. Maka diarahkan untuk pembentukan karakter, berdisiplin, tanggung jawab, meningkatkan jiwa sosial dan pengetahuan sains-teknologi serta lingkungan sangatlah penting untuk dicapai. Pengertian pendidikan beserta tujuannya tentu akan dipengaruhi dari metode sistem pendidikan di Indonesia. Baik kurikulum (saat ini terjadi polemik Kurikulum 2013), pengajar, infrastuktur, anggaran hingga metode.

Mendikbud Prof. Muhadjir Effendy menyebutkan bahwa FDS atau seharian di sekolah adalah usaha untuk mencapai tujuan pendidikan dasar yang berkualitas bagi peserta didik Indonesia.

Ada beberapa alasan yang dikemukakan pak menteri baru ini untuk memuluskan FDS dijalankan di Indonesia. Diantaranya, Pertama; agar terbentuk karakter peserta didik yang baik sehingga tidak liar saat di luar (apakah keluarga dan lingkungan sosial yg dimaksud liar pak ?). Kedua; agar anak tidak sendiri ketika orang tua bekerja (Bukankah semua orang adalah guru dan semua masyarakat adalah orang tua ? Atau mohon diajukan pak jam kerja yg tidak panjang dengan upah layak kepada ortu anak-anak khususnya dr kalangan klas buruh dan kaum tani, agar mereka punya waktu bersama yang banyak pak). Ketiga; memberikan tugas yang lebih banyak (apakah anak-anak tidak butuh bermain dengan alam, masyarakat dan lingkungannya pak ? Tugas2 itu hanya teori tnp praktek pak, kami “jenuh” di sekolah pak!). Keempat; untuk membendung ajaran radikalisasi. Di sekolah mereka bisa mendapatkan ajaran ekstrakurikuler agama, seni, olahraga yang tidak menyesatkan (Seseram itu kah pak ? Bukankah Sekolah-sekolah berpahamkan Neolibnya dan feodalisme lbh menyeramkan ?) Kelima; mengurangi penyimpangan peserta didik (bukankah sekolah mengajari peserta didik yg individual, pragmatis, liberal ya pak? Kan itu menyimpang untuk karakternya !)

Sekumpulan alasan bapak menteri masih sangat susah dicerna oleh rasional untuk memajukan pendidikan dasar di Indonesia. FDS seolah-seolah menjadi kebijakan menuju pembobotan peserta didik yg mampu membentuk karakter, daya kritis maupun kreativitas si siswa. Jikalah itu benar, apakah sekolah saat ini sudah tempat yang nyaman dan aman bagi kami ? Apakah sekolah itu tempat yang benar-benar memberikan manfaat bagi perkembangan IPTEK yg berguna bagi rakyat ? (Mohon dijawab pak, atau ijinkan saya menjawabnya pak!).

Saya memahami bahwa pendidikan itu sangat penting bagi kemajuan suatu bangsa dan negara. Pendidikan bahkan menjadi instrumen yang menopang bangsa yang mandiri dan berdaulat tanpa cengkraman kekuatan manapun.  Jika mengutip indikator kemajuan pendidikan dasar oleh Edward (1992) ada 12, mulai dari pendidikan dari orang tua, dukungan dari sistem pendidikan yang efektif, infrastuktur yang menunjang, kepemimpinan yg baik, mewujudkan harapan yg tinggi dari peserta didik, sikap yang baik dari guru, WAKTU pembelajaran yang efektif, metode pembelajaran yang menyesuaikan dgn usia, interaksi, penghargaan kepada peserta didik dan kebebasan akademik sekolah. Apakah itu sudah dipenuhi pak ?  Tapi lagi-lagi kenyataannya berbeda Pak. Pendidikan di Indonesia masih belum menjalankan tugas sejarahnya sebagai alat kebudayaan yang mentransformasikan nilai-nilai yang mampu memanusiakan manusia atau dalam bahasa rakyat membebaskan penindasan manusia atas manusia.

Lanjut Paulo Freire bahwa pendidikan itu adalah membebaskan bukan Membelenggu. Pendidikan itu menciptkaan kepercayaan diri kepada peserta didik sebagai modal atas kemerdekaan. Pendidikan itu juga bukan sebatas sekolah-sekolah mengajarkan hal-hal dgn label modern. Namun inti tujuan sekolah adalah menciptakan pendidikan yang berorientasi pada keberpihakan kaum tertindas.

Kritikan Paulo atas pendidikan dewasa ini adalah Sekolah masih menerapkan “pendidikan gaya bank”. Peserta didik dianggap sebagai wadah untuk menampung seluruh rumusan/teori-teori. Peserta didik menjadi objek, sedangkan pengajar berlagak menjadi subjek yang otoriter yang paling tahu segala-galanya.

Dalam buku “Pedagogy Of The Oppressed” menjelaskan Antagonisme Pendidikan yang meliputi; 1. Guru mengajar, murid belajar, 2. Guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa-apa, 3. Guru berpikir, murid dipikirkan, 4. Guru bicara, murid mendengar, 5. Guru mengatur, murid diatur, 6. Guru memilih dan memaksakan pilihan, murid menurutin, 7. Guru bertindak, murid disuruh membayangkan, 8. Guru memili materi, murid menyesuaikan, 9. Guru menjadi subjek, murid menjadi objek, 10. Guru menyatakan kebenaran, murid tidak boleh mempertentangkan kebenaran.

Maka betapa celakanya pendidikan itu. Murid hanya disuruh menghapal apa yg diberikan sekolah. Jika sewaktu-waktu dibutuhkan, maka murid harus mampu mengeluarkan teori/rumusan dari sekolahnya. Model inilah sesungguhnya memenjarakan daya kritis atau intelektual dari peserta didik. Krn tidak ubahnya sekolah mendidik muridnya hanya menjadi robot-robot bernyawa.

Sedang pendidikan dalam prespektif ahli sosilog Karl Marx tidak luput saya akan kemukakan. Menurutnya, sistem pendidikan dunia ditentukan oleh penguasa ekonomi yang menciptakan kekuasaannya. Lanjutnya, pendidikan bukanlah berorientasi profit untuk melampiaskan akumulasi kapital bagi borjuis besar. Namun pendidikan baginya adalah sebuah instrumen kebudayaan yang membebaskan manusia dari belenggu dehumanisasi serta menciptakan manusia menjadi manusia sejatinya. Kritikannya, pendidikan dari sekolah-sekolah yang ada bukanlah untuk kemajuan peradaban manusia-masyarakat, tp pendidikan/sekolah masih opresif bagi peserta didik untuk memperkuat dominasi kapitalisme-imperialisme di seluruh dunia. Maka cara-cara pengekangan, pemaksaan, militeristik, tidak ilmiah, terbelakang, menjadi wajah sekolah-sekolah. Singkatnya Marx menyatakan bahwa tujuan dari pendidikan itu adalah membentuk karakter manusia yang tercerahkan untuk menciptakan kesadaraan sosial yang lahir dari keadaan sosial untuk memproduksi manusia-manusia baru yang progresif, egaliter, demokratis dan membebaskan manusia dari penindasan. Terang, bahwa kemajuan pendidikan bukanlah sebuah PEMENJARAAN yang memisahkan peserta didik dari kehidupan sosialnya baik keluarga, masyarakat dan lingkungannya. Pendidikan harus mampu mengintegrasikan sekolah sebagai alat PEMBEBASAN bukan PEMENJARAAN. Karena jika pak Menteri tahu, bahwa asal usul pengertian sekolah itu dari Yunani, maka bapak akan lbh paham. Sehingga tidak kontraproduktif dgn lahirnya gagasan FDS.

Atau ijinkan saya kembali menjelaskannya kepada bapak, barangkali juga bapak lupa. Sekolah skhole, scola, scolae atau skhola yang memiliki arti: WAKTU LUANG.

FDS itu bukan solusi pak. Atau jangan-jangan FDS menjadi proyek untuk semakin mengintensifkan sekolah sebagai Ideological State Aparratus neolib sebagaimana disebut Althusser !

Sekolah belum terlalu nyaman dan aman bagi siswa, Pak. Tidak sedikit siswa-siswa stress menghadapi proses belajar di sekolah (di kampus aja banyak mahasiswa stress krn beban sks-tugas yang banyak pak, yg membuat dirinya teralienasikan dari kenyataan sosial).
Siswa-siswa butuh suasana sekolah yang nyaman dan aman. Siswa-siswa membutukan pendidikan yang berguna untuk membentuk karakternya yang kolektif, demokratis, bersosial. Siswa-siswa Membutuhkan Sekolah yang MEMBEBASKAN, bukan MEMENJARAKAN.
Goodbye FDS !

Penulis : Rachmad P Panjaitan (Ketum PP FMN)