Konsiten Tolak RA Jokowi, AGRA Memilih Tidak Bergabung Aksi HTN 27 September

Aksi AGRA di Jambi 25 September 2017. Aksi ini bagian aksi serentak di 18 Propinsi dalam peringatan Hari Tani Nasional [foto:AGRA]

Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) kembali menegaskan sikapnya menolak program Reforma Agraria pemerintah Jokowi-JK dan perhutanan sosial. Sikap tersebut di gaungkan dalam aksi serentak di 18 Propinsi di Indonesia dengan melibatkan sekitar 20.000 kaum tani pada 25 September lalu. Selain itu sebagai ketegasan menolak RA  Jokowi-JK, pimpinan pusat AGRA memilih tidak terlibat dalam aksi 27 September di Jakarta yang diselenggarakan KNPA.

“Seluruh kaum tani di berbagai daerah sudah jelas sikapnya menolak Reforma Agraria Jokowi-JK, karena ini bukanlah Reforma Agraria sejati sebagaimana aspirasi kaum tani dan rakyat Indonesia, namun begitu AGRA tetap menghormati sikap organisasi lain yang berbeda pada aksi tanggal 27 September.”, jelas Rahmat ketua Pimpinan Pusat AGRA.

Dalam peringatan HTN ke-57 tahun 2017, AGRA secara Nasional telah menyelenggarakan berbagai aktifitas kampanye melalui diskusi, dialog publik, seminar, aksi piket, kampanye kreatif hingga mobilisasi massa serentak di 18 provinsi yang dilaksanakan pada 25 September 2017 dengan tema Perkuat persatuan kaum tani dan solidaritas antar rakyat tertindas – tolak Reforma Agraria Jokowi, hentikan kekerasan dan kriminalisasi terhadap rakyat.

AGRA berpandangan bahwa Program Reforma Agraria dan Perhutanan Sosial (RA-PS) Pemerintahan Jokowi-JK sama sekali tidak bertujuan untuk mengurangi atau menghapuskan monopoli tanah oleh tuan tanah besar dalam berbagai bentuk, baik oleh perkebunan besar milik swasta atau pemerintah sebagai agen dari modal internasional milik kapitalis monopoli (Imperialisme). Begitu pula penguasaan tanah luas oleh konsesi pertambangan, taman nasional dan perusahaan konservasi sama sekali tidak tersentuh.

Rahmat menambahkan, “Reforma Agraria adalah aspirasi sejati rakyat yang menghendaki terwujudnya keadilan atas hak kepemilikan tanah dan kebebasan akses atas sumberdaya alam di Indonesia, dan terhapusnya setiap bentuk monopoli, baik monopoli atas tanah, monopoli sarana produksi dan produksi pertanian hingga distribusi. Sebuah aspirasi objektif yang melekat dalam kaum tani, rakyat dan bangsa Indonesia.”

Dalam rilisnya AGRA menyampaikan, RA-PS Jokowi tidak memiliki perhatian atas masalah sewa tanah yang mencekik, sistem bagi hasil yang timpang dan tidak adil bagi tani miskin di pedesaan. Reforma Agraria Jokowi justru akan memperdalam dan memperluas peribaan di pedesaan dengan mempromosikan pembagian sertifikat untuk disekolahkan. Dengan syarat produksi-input dan output pertanian Indonesia yang sangat buruk, kredit bagi kaum tani adalah petaka terbesar. Lebih lanjut, program ini sama sekali tidak menjawab persoalan upah buruh tani yang sangat rendah, monopoli input dan output pertanian, dan justru semakin meneguhkan Negara sebagai Tuan Tanah melalui program Perhutanan Sosial dengan luasan 12,7 juta Ha.

Menurut AGRA, reforma agraria sejati harus mampu untuk menurunkan secara drastis sewa tanah terutama bagi hasil feodal yang timpang dan tidak adil bagi kaum tani. Reforma Agraria sejati juga menurunkan peribaan secara drastis atau mengusahakan penghapusan peribaan sama sekali, memperbaiki upah buruh tani yang ekstrim rendahnya, menentang monopoli input pertanian yang diimpor dengan harga sangat mahal serta merusak, dan menentang ekspor hasil keringat kaum tani oleh kekuatan monopoli asing dengan harga sangat murah.

Reforma agraria sejati tidak dapat berjalan berdampingan dengan monopoli tanah dan pemberian HGU tanpa batas oleh pemerintah. Reforma Agraria tidak akan tercipta dengan meluasnya perampasan dan penggusuran tanah rakyat oleh pemerintah dengan kekerasan aparat bersenjata. Reforma Agraria sejati tidak akan ada selama suku bangsa minoritas tidak diakui dan tanahnya terus diambil oleh perusahaan besar monopoli.

AGRA juga memberikan apresiasi dan dukungan kepada seluruh kaum tani yang berjuang dengan gigih dan pantang menyerah untuk mempertanahkan tanah, melawan perampasan dan monopoli tanah, kekerasan, kriminalisasi, serta menolak Program Reforma Agraria dan Perhutanan Sosial pemerintah Jokowi-JK.

Sebagai penutup, Rahmat mewakili PP-AGRA menyampaikan apresiasi dan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh organisasi yang memberikan dukungan kepada AGRA dan kaum tani dalam aksi nasional pada 25 September yaitu organisasi buruh, organisasi pemuda, mahasiswa, perempuan, buruh migran, dan organisasi masyarakat sipil mulai dari tingkat nasional mapun di daerah-daerah.